Tempat Terindah
Diantara gerimis, ingatanku berputar, kisah-kisah yang pernah mampu menghadirkan tawa, senyuman yang lepas, bahkan tangis pilu. Kusandarkan diri pada segaris pohon, tepi danau yang tenang. Kadang kala kenangan akan ternampak sangat nyata, seperti saat ini. Kutolehkan pandanganku pada tiga titik yang semakin mendekat, semakin mampu tergambar, dua laki dan satu gadis SMP. Bercanda-canda, mengantar pada waktu yang sama, masa putih biru yang lugu. Ada satu yang paling indah saat itu, waktu mengendap-endap, mencuri kesempatan, hanya untuk mengagumi sosok tampan, mata yang syahdu, senyum yang menawan, bagai terbang melayang menembus cakrawala. Dan saat kembalipun aku menemukan diriku yang masih terkagum-kagum. Aku menyebutnya “cinta”. Tapi wajahku tertekuk saat orang dewasa itu menambahkan “monyet” di akhir kata. ‘cinta monyet’? hufft…. Ya sudahlah, terserah, yang penting aku damai walau hanya diteduhkan oleh wajahnya yang rupawan. (waktu terasa singkat berjalan) ...