Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

A Gift For Your Birthday

Dear November Ini bukan sekedar cinta yang berbingkai Bukan pula sebuah rindu yang sengaja aku tata Melainkan lebih dari itu Kenangan- kenangan yang berbekas adalah kekuatan Tak tahu bagimu Tapi aku sangat menghargainya Terima kasih untuk semua Aku sampai saat ini tak pernah lupa ulang tahunmu Wahai November

Kamu Akan Kembali

Malam ini langit hanya dihiasi segaris bulan dan satu bintang yang menjauh Tapi cahayamu seolah memberi jejak Menarik tanganku agar aku terus mengikutimu Aku hanya tersenyum Sebab kamu, Ya! hanya kamu. Dari sini aku dapat melihat cahaya - cahaya bak berlian pada leher gunung Katamu itu keindahan Memang benar, dan senyumku semakin merekah Namun, tiba-tiba aku kehilangan genggamanmu Kamu berbisik dalam kegelapan "Aku akan segera kembali, kelak tiba saatnya aku melingkarkan cincin di jari manismu" Lalu aku tak dapat melihat wajahmu lagi Aku tak mengerti harus mengekspresikan perasaan yang seperti apa Terisakku sendiri, pilu memikirkannya Lalu aku tertunduk, tenggelam pada malam yang pekat

Aku Mencintai Gerimis

Seketika aku terbawa damai Tetes demi tetes gerimis Mendarat indah di telapak tanganku Wangi dingin menelusuri sukma Aku akan menari bersama gerimis Merona malu wajahku Saat setetes air mengecup pipiku Aku sangat mencintai gerimis

Jangan Hadir Lagi

Peristiwa sore itu seperti mimpi buruk, bahkan bisa lebih menyeramkan. Dimanapun aku menyusuri pikiranku, ia selalu menampakkan diri, sangat cepat namun jelas. Tidak hanya sekali, tetapi sering. "Tiiiiiidddaaaaaaakkk ! Hapus semua itu dari memoriku !!" Aku meremas bukuku, aku terlihat sedang membaca, tapi sebenarnya tidak. Mataku menyorot tajam buku, hampir membakar buku, tatapan itu seperti marah atau takut. Pandanganku kosong. Nafasku berat, aku akan menghembuskannya, dan... semakin panjang hembusannya, hembusan yang semakin lega. Berusaha mengalihkan pikiran. Itu tadi mengerikan ! Besok atau lusa, atau nanti, atau beberapa menit lagi, bisa jadi ia hadir lagi.

Ia Telah Pergi

Langkahnya semakin menjauh, aku hanya bisa menatap punggungnya, mengenakan kaos hitam, tangan disembunyikan dalam saku celananya. Aku teriak memanggil namanya, namun tak terdengar suaraku. Ia tetap berjalan. Aku mengejar, dan masih terus berusaha memanggil. Lama, Suaraku akhirnya terdengar dan mataku pun terbuka menjelalat sekeliling. Cahaya temaram dari lampu kecil di sudut kamar mengenai setiap benda disekitarku, aku mengenali. Langit-langit kamar yang polos, pintu, lemari, dan meja. Aku telah terbangun dari mimpi, dengan keringat masih mengucur, dan nafas yang belum teratur. Tetapi bukan sekedar mimpi Sebenarnya. Ia benar-benar pergi. Ia telah pergi.

All Is Well

Menjauh dari kepenatan Menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya dan bergumam bahwa semua akan baik-baik saja Bukan sekedar bergumam Aku seperti menyemangati diri sendiri Semua aku anggap sederhana Salah dengan sederhana? apa karena hidup aku bilang sederhana? Aku suka kesederhanaan. Sering aku membaca masalah, tidak dengan kegalauan Apalagi membiarkan air mata mengalir deras begitu mudah. oh sayang sungguh sayang Maka aku jalani saja Terlalu datar mungkin tapi Tidak. Bukan datar. Lebih tepatnya 'takut', Takut mengambil langkah, salah-salah langkah itu membawa beban pikiran yang nanti akan menyakiti kepala. Cukup! Tetap lurus. Atur nafas. dan. Semua akan baik-baik saja. all is well.

Untuk Seseorang Di Masa Depan

Bulan separuh Langit mendung menutupi Jangan pula senyum itu kau samarkan Tak pernah ingin ku sudahi penantian ini Sebab aku ingin pertemuan kita seindah yang dijanjikan-Nya Tolong katakan lagi bahwa menanti itu indah Meski satu atau dua tahun lagi Sebab aku janji tak akan jenuh Wahai kamu yang dirahasiakan-Nya

Dia Yang Aku Sebut Sahabat

“Dan juara pertama untuk lomba MIPA tahun ini diraih oleh…. Yudha Pratama”. Begitu ucap juri pada perlobaan MIPA. Yudha Pratama? Hatiku bertanya-tanya sendiri, siapakah gerangan pemilik nama itu, kenapa ia selalu juara satu setiap ada perlombaan seperti ini. Apakah aku iri? Yang jelas aku penasaran. Awalnya aku memerhatikan langkah kaki yang berjalan menuju panggung. Sepatu hitamnya, celana biru, kemeja putih, dasi biru dan… wajahnya…. Deg ! jantungku tiba-tiba seperti tidak pada tempatnya. Sungguh, dia tampan. Kali ini aku melihatnya dengan berbeda. Mungkinkah saat ini dia telah memikat hati ku? Mataku sudah tak dapat melepaskan pandangan pada wajah tampan itu, matanya yang sayu, hidung mancung, dagu yang manis, dan, ohh.. senyumnya. Sepertinya aku akan terbang, dan aku menunduk, memastikan kakiku masih menginjak lantai. “Ve..! Verizha !”, suara Inge mengagetkanku. “Apa?! Enggak perlu teriak kali ! aku kan ada persis disebelahmu”, jawabku. “kamu sih! Kok bengong, matamu ga...

Melodinya Berbeda

Aku ingin melihat alang-alang tumbuh memenuhi sekelilingku. Bukan tembok-tembok besar ini. Aku ingin menghirup udara segar dari pegunungan hijau Bukan debu dan asap knalpot itu Aku ingin mendengar burung-burung berkicauan Bukan suara kendaraan yang menderu-deru. Kini, saat aku ingin melihat langit malam, atap, dan kabel dari tiang listrik itu menghalangi. Bukan sekedar cahaya yang ku mau. Meski setiap malam, di sudut-sudut jalan, lampu berwarna-warni dipajang. Tetaplah cahaya bintang dan rembulan yang menepis rindu. Rindu. Aku tak bisa lagi menatap hujan yang berjatuhan pada dedaunan sambil menghitung mundur waktu  pertemuan denganmu Karena melodinya berbeda sekarang.

Hidup Itu Indah

Hidup. Terlalu luas maknanya untuk dijabarkan. Membuka mata di pagi hari, Menghirup udara, Menyapa dunia, Menebarkan senyum pada mereka, Semua itu “hidup”. Bagaimana dengan melangkah? Ya, Itu juga merupakan hidup. Namun itu semua jika kamu memiliki tujuan kemana akan melangkah. Karena melangkah tanpa tujuan, itu sesuatu yang membuang-buang waktu, padahal waktu itu sangat berharga. Sehingga aku berpendapat, ada dua yang membuat hidup sungguh bermakna, yaitu “tujuan hidup” dan “menikmati hidup”. Sekarang coba bayangkan jika kamu berada di suatu ruang yang gelap, dan kamu ingin keluar tapi kamu tidak bisa melihat, tak tahu jalan, tak tahu arah. Namun diri tak perlu bingung harus kemana jika di hadapanmu sekarang telah ada cahaya terang, sebab itulah arahmu, itulah tujuanmu. Tinggal bagaimana caranya agar sampai kesana. Yang kutahu, setiap orang mempunyai tujuan hidup dan cara menggapai tujuan hidupnya itu berbeda-beda. Ada yang ingin membuat orang t...

Cinta Itu Mengerti

Cinta itu tegar, meski dipisah samudera luas Ia tak perlu orang lain untuk melepas rindu Sebab mereka punya kesetiaan Cinta itu pantang meneteskan air mata Karena mereka punya kisah indah Untuk tersenyum setiap saat Cinta itu harus dipertahankan Walaupun hampir tiba di ujung jalan Cinta ini hadir, bukan untuk disakiti Sayangilah cinta Maka ia akan memberi Kasihnya, Karena Cinta itu mengerti.