Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Untuk Sebuah Perpisahan

Haru bukan bermaksud meng-ojek-kan Kira, meski kelihatannya begitu, tapi Haru benar-benar tidak punya alasan lain agar bisa terus berada di dekat Kira selain meminta Kira mengantarkan ia ke suatu tempat. Besok Haru sudah harus balik ke Bandung. Padahal sore ini adalah waktu yang pas untuk perpisahan, dan nampaknya Kira di sore ini telah pada puncak kejenuhannya. “Repot banget sih kamu, tau gak sih aku kepanasan!” hardik Kira. Haru bukan kepalang terkejutnya. Sepanjang jalan Haru terus meminta maaf, namun Kira hanya menjawab dengan “hmm” saja. Akhirnya Haru memilih diam. Dalam diam Haru memikirkan semua yang ia harapkan dari Kira sebelum berangkat. Haru ingin Kira menciumi keningnya seperti dulu, Haru ingin merekam dalam gambar sebuah sunset di puncak bukit bersama Kira, dan Haru ingin melihat senyum Kira sebagai tanda perpisahan. Kini itu semua hanya keinginan semu belaka. Haru sungguh sedih. Tak bisa ia bayangkan beberapa bulan kedepan akan melewati hari sendiri tanpa Kira. “Mung...

Romantiiiisss

Haru dapat menghitung dengan jarinya, sisa waktu ia berada disini. Tinggal 3 hari lagi , nampaknya waktu sedang berlaku curang terhadap Haru, mengapa waktu untuk bersama Kira hanya sebentar saja. Haru harus memanfaatkan waktu yang tersisa itu dengan baik, ia mau terus bersama Kira, menghabiskan waktu bersama Kira. Tak ada ekspresi yang bisa Haru lukiskan untuk waktu yang ia lewati bersama Kira, selain senyuman dan tawa yang lepas, sesekali memang ada kesal, dan cemberut yang Haru buat, tapi sesungguhnya itu hanya taktik manja dari seorang Haru, yup gadis yang kekanak-kanakan. Masih saja sempat Haru layangkan senyuman untuk siang yang terik itu, Kira sudah mengeluarkan keluh peluh mengumpat pada matahari yang mencoba menusukkan panas ke tubuhnya, tapi lihat Haru, Haru hanya tertawa melihat tingkahnya itu. Haru sudah terbiasa dengan Kira yang selalu mengeluh, panaslah, laparlah, mengantuk, dan semacamnya, hehehe kalau tidak mengeluh, bukan Kira namanya. Mereka berjalan menuju se...

Berkunjung ke Rumah Nenek

Aku paling senang jika harus berkunjung ke rumah nenekku di Kampung Rato. Walaupun nenek tiri, tapi super baik deh orangnya, apa lagi kepadaku. Aku jadi ingat ketika aku masih kelas 4 SD, rumahku letaknya jauh dari SD-ku, dan kebetulan rumah nenek tiriku tua dade –begitu panggilanku buatnya, dekat dengan SD-ku. Aku akhirnya disarankan pulang ke rumah tua dade baru setelah itu dijemput disana, atau mungkin diantar papi Feri (anaknya tua dade). Ada banyak yang diajarkan mereka kepadaku setiap kali aku ada disana, mulai dari mencuci tangan di kobokan (air di mangkuk kecil) ketika makan bersama, kata tua dade “jangan dicipratin sembrono seperti itu, tapi dengan halus dan sopan” tua dade mempraktekkannya, dengan ayu gemulai, err… lebay juga, tapi kalau dilihat-lihat diterawang lebih jauh, bisa ditebak dulunya tua dade adalah sosok wanita yang cantik jelita, anggun dan ayu. Hm hm. Pelajaran ke-dua, “harus banyak-banyak minum”. Bisa dibayangkan aku dulunya kalau minum, hanya seperemp...

Di sore hari...

Beruntung, rumah Haru bukan terletak di pinggir jalan raya, atau di pinggir jalan umum yang dilewati hanya karena itu jalan satu-satunya. Sebab Haru tak suka kebisingian. Disetiap sore selama liburannya, Haru akan duduk di teras depan rumahnya, membaca novel yang baru ia beli sebelum mudik, atau membaca ulang novel-novel lamanya. Sesekali Haru mendongak memperhatikan langit yang malu-malu bersembunyi di balik awan putih. Haru akan betah disitu, sampai langit akan semakin merona malu kala Haru terus memandanginya.