Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Hampir saja Jatuh Hati

Hampir saja semua akan dimulai Sedikit lagi Mungkin aku akan jatuh... hati... Apa yang bisa mematahkan ketakutanku? Apa ada cara membuka kembali hatiku? Tidak dengan semua kalimat itu, meski kuakui, ada sedikit yang mencair Hanya sedikit Aku pelit soal ini Sepertinya Iya, tapi Tidak Seperti Menerima, tapi Tidak Kecenderungan mendua Ini yang menutup pintu hati rapat dan terlalu rapat Inilah mengapa menjadi yang paling sulit untuk dipelajari kaum kami, Seperti Menerima, tapi Tidak Tak perlu menunggu Bahkan aku tak tahu ujung dari menunggu Pun aku tak tahu siapa yang aku tunggu, tidak juga kamu

Sahabat lalu sejati

Lebih dari sekedar dekat, yang pura-pura Lebih dari sekedar tahu rahasianya, melainkan menghargainya Lebih dari sekedar bertahun-tahun, tetapi sekali bertemu bisa bercerita tanpa titik Sahabat itu meyakinkan bahwa sahabat itu ada dan sekarang aku yakin sahabat itu kamu

Memiliki Sekali Lagi

Sukses kamu buat kau terpukau Kamu tampan dengan caramu Apalagi dengan kemeja putih itu Sudah aku bilangkan? Kamu tampan dengan caramu, Caramu berbicara di depan umum, Caramu berbicara, Caramu bicara, Caramu caramu Kamu Emm Tidak tidak tidak Aku sekedar mengagumi Tak ada niat memilikimu sekali lagi Jelas kamu sudah jauh sekali, jauh lebih sempurna Mana bisa aku memaksa, yang benar saja Aku beruntung, dengan pernah menjadi bagian sejarahmu Sungguh beruntung

Selamat Ulang Tahun

Selamat ulang tahun sahabat Ini sudah yang kesekian kalinya mengucapkannya tanpa menjabat tanganmu  Namun aku akhirnya menyadari akan keluasan makna dari kata “sahabat” Yang meski tidak selalu bertemu  Dan tak selalu menghabiskan waktu bersama  Kita masih sahabat Semoga menjadi pribadi yang dewasa Minimalkan mengeluh, perbanyak kerja keras Soal jodoh, gak akan kemana, tak perlu terlalu dipikirkan Semoga sehat selalu  Dan kesuksesan menyertaimu

Lagi, Aku Rindu Kamu

Aku selalu berkhayal Kita duduk berdua, aku bernyanyi dan kamu mengiringi dengan petikan gitar Sedang mereka masih bercanda-canda tak mempedulikan kita Senandung-senandung yang tak henti hingga senja Kala malam pun, kita masih punya bahan untuk kita ceritakan, bersama sahabat Tawa apa yang tak lebih bahagia selain dengan sahabat Suasana apa yang tak lebih hangat selain dengan sahabat Ah, intinya aku sedang rindu kamu Aku ingin mengajakmu ke pantai Kita bisa nyanyi-nyanyi di tepinya Kamu boleh memainkan gitarmu Bukankah itu menyenangkan?

Aku Masih Ingin

Terima kasih, sekali lagi kamu hadir dalam mimpi Meskipun saat terbangun, aku selalu menyesalinya, ternyata semua bukan nyata Aku masih ingin berpura pura tak perduli untuk kemudian kamu akan datang menggodaku Aku masih ingin duduk berdua dengan mu, mendengarkan lagu kesukaanmu Aku masih ingin disampingmu Taukah? Apa yang paling aku sesalkan? Bahkan dalam mimpi, aku masih saja gengsi mengakui aku rindu kamu

Tujuh Wajah

29/9/2013 Cukup kehilangan satu kali, untuk membuat rasa sayang diantara kami kian kokoh. Ini bukan tentang sahabat yang sekarang, ataupun yang dulu. Karena kadang kamu perlu berhenti bahkan putar haluan ketika semuanya terasa berbeda dan kamu tak bisa mengikutinya. Tidak perlu satu atau dua, sahabat boleh banyak. Siapa yang melarang? Pernah hati kecil menangis, manakala melihat sebuah foto, tujuh wajah mengguratkan kebahagiaan yang dulu pernah ada dua wajah lagi disitu. Aku dan dia. Jiika saja Tuhan tidak lebih menyayangi dan mengambil cepat dirinya, ia pasti tetap disana, bersama tujuh wajah. Sedang aku, masih disini. Melihat dari sini.

Bunga

Benar yang kebanyakan meraka bilang, Bunga Kamu pendiam, Bunga Perkara cinta pun kau memilih bungkam, Bunga Tapi lihatlah gelagatmu, Bunga Mencari-cari kesempatan untuk menyelinap dalam khusuk doanya

Nikmati Hidup

Kalau saja waktu dapat dikendalikan.  Aku ingin memeluk apa yang kita sebut kenangan.  Memasungnya agar tak beranjak dulu dariku yang egois, atau menahan agar tak mengambilmu cepat. Sebab kenangan itu hidup kita yang berharga.  Kamu selalu ingatkan itu.  Ya.  Dan kamu berkata: “nikmati hidup”

Biru

Sebab aku kehilangan arah Menerjemahkan birunya begitu sulit Kamu yang selalu warnai langit Sudah jauh menggapai langit Pandanganku bukanlah biru lagi Maafkan untuk mengecewakanmmu Aku terlampau takut dia marah Ataukah aku terlalu mengangan-angankan kasih sayang padanya. Aku pun memuja kepercayaan Hingga saat ia hancur Aku hancur Tunjukkan birumu Tuliskan pesan pada cakrawala Meski aku tak mau melihat Egoku memaksamu tetap tinggal Aku tak ingin kamu pergi !!

13 Januari 2012

Saat langit cerah Langit yang biru dengan gumpalan awan putihnya Aku mencari kedewasaanmu. Saat langit murung Dan awan kelabu memenuhinya Tanganku menggenggam tetesan gerimis Aku mencari kesederhanaanmu. Matahari terbenam begitu saja Tak ada lagi yang melihatku dari balik kamera Siluet sudah tak bermakna lagi Semuanya hitam pekat

Tentang Layang-layang

Percakapan dua orang yang mungkin tentang layangan. Percakapan yang hanya keduanya yang tau, yang lain hanya menduga dan mengaitkan dengan kisah masing-masing. E: pikiranku sedang melayang-layang D: layangan kali melayang-layang E: Ibaratnya begitulah D: awas sampai terputus talinya, jangan dilayangkan terlalu tinggi E: aku malah berharap layangan ini putus saja, daripada ia mengganggu burung-burung itu yang sedang terbang berbaris indah D: kenapa kau tidak ikut terbang bersama burung itu, dan kenapa pula kamu biarkan layangan itu terputus? Bagaimana kalau layangan itu benar-benar terputus dan tak tau arah kemana akan tersangkut. E: diriku sangat ingin terbang bersama mereka. Dan soal layangan, biarkan ia terputus, aku sudah tidak peduli, ia hanya menyakiti tanganku dengan sayatan benangnya yang tajam. Menyakitkan. D: jangan biarkan tali layanganmu putus, walau benangnya menyakiti tanganmu, sesakit apapun kamu harus bertahan karena benang itulah kemudimu. E: bagaim...

Terbang Bersamamu

Sahabat.. Aku sangat butuh kamu saat ini. Tolong hadir atau sekedar bisikkan kalimat penyemangat itu. Aku gak kuat, Aku yang kau bilang wanita tegar, Ternyata tak setegar yang ada dipikiranmu Aku terlalu cengeng untuk itu Coba saja kamu masih disini, Seperti biasa, Kamu akan jadi orang pertama yang menyadari mataku bengkak karena menangis berjam-jam. Sahabat, Aku gak mau jalani cinta seperti ini Aku sama seperti budaknya Aku dibelenggu oleh tuntutan-tuntutannya Apa ini yang namanya kekasih? Tapi aku sudah terjebak dalam suaranya, Aku menjadi luluh lantak. Dan di lain sisi… Batinku menjerit Meminta lepas, Ingin terbang bersamamu.. di langit luas

All is Well

Hujan ini mengingatkan aku pada suatu waktu yang diselimuti ketegangan dan air mata. Saat itu, aku duduk di muka Rumah Sakit meratapi hujan yang turun, petir turut mempermasalahkan air mataku. Aku menangis, melihat sahabatku, Rifky, berjuang melawan kesakitan, aku bisa melihat genggamannya, erat, sungguh tak kuasa. Ia dipindah dari IGD menuju ICU, beberapa menit kemudian ada seseorang berteriak histeris dari dalam ruangan, tanpa mendapat komando, serentak semua orang disitu yang sayang dengan Rifky menangis, memeluk satu sama lain. Ini kabar yang tak pernah ingin aku dengar, aku terpukul. Rifky telah pergi meninggalkan kita semua. …. Aku mengenalnya sejak menjadi murid baru di sekolah menengah dan bersahabat, “apa yang enggak buat sahabat”, begitu katanya tiga hari sebelum kepergiannya. Dialah sahabat yang ada disaat ku senang dan sedih, mendengarkan curahan hatiku dan sebaliknya, akupun mendengarkan perjuangan cintanya, aku selalu menyemangatinya, hingga akhirnya ia mendapatk...

28 Oktober 2013

Setiap tanggal 28 Oktober, selalu terulang setiap tahunnya, kini sudah ketiga kalinya, Haru menangis sambil terisa-isak, merasakan sebuah kerinduan yang sangat dalam, dalam isak tangisnya, Haru bertanya, “Kenapa kamu tinggalkan tatapan mata indahmu begitu menancap di hati?  Kenapa kamu menggenggam tanganku? Kenapa kamu menghangatkan hatiku yang selalu bersedih? Kenapa kamu dekatkan tubuh hangatmu padaku? Kenapa kamu biarkan aku merasakan degup jantung mu? Kenapa kamu menunjukkan padaku senja? Kenapa kamu bermanja-manja padaku? Kenapa kamu menceritakan perasaanmu padaku? Kenapa kamu pergi??!! Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Selalu terulang dalam memori Haru tentang hari itu, hari dia pergi. Hujan sore itu, turut menangis, melepas dia. Sejak itu, hari-hari Haru seperti tak punya semangat, ia selalu melamun, sebentar menangis, sebentar melamun lagi. Kini sudah dua tahun kepergian dia, Haru sudah bisa menerima kenyataan, Haru masih terus mengirimi dia doa. Dia i...