All is Well

Hujan ini mengingatkan aku pada suatu waktu yang diselimuti ketegangan dan air mata. Saat itu, aku duduk di muka Rumah Sakit meratapi hujan yang turun, petir turut mempermasalahkan air mataku. Aku menangis, melihat sahabatku, Rifky, berjuang melawan kesakitan, aku bisa melihat genggamannya, erat, sungguh tak kuasa.
Ia dipindah dari IGD menuju ICU, beberapa menit kemudian ada seseorang berteriak histeris dari dalam ruangan, tanpa mendapat komando, serentak semua orang disitu yang sayang dengan Rifky menangis, memeluk satu sama lain. Ini kabar yang tak pernah ingin aku dengar, aku terpukul.
Rifky telah pergi meninggalkan kita semua.
….
Aku mengenalnya sejak menjadi murid baru di sekolah menengah dan bersahabat, “apa yang enggak buat sahabat”, begitu katanya tiga hari sebelum kepergiannya. Dialah sahabat yang ada disaat ku senang dan sedih, mendengarkan curahan hatiku dan sebaliknya, akupun mendengarkan perjuangan cintanya, aku selalu menyemangatinya, hingga akhirnya ia mendapatkan wanita idamannya. Sungguh sosok yang penuh semangat. Dan aku belajar darinya.
Masih jelas teringat, detik-detik ketika ia akan menyatakan cinta pada seorang perempuan, perempuan yang ia taksir sudah lama, namanya Puput. Aku menyaksikan wajah tegang, gugup nya, aku yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum melihat tingkahnya. Padahal saat itu sedang dalam suasana belajar di kelas sore hari (pemantapan UN mapel biologi), tapi pandangannya tak bisa melepaskan handphone di meja.
“Vi..!! dia uda di lampu merah”, ucapnya mengagetkanku. “iya.. iya..” balasku tenang dan tersenyum. Tapi ia tidak bisa tenang, sesekali ia letakkan tangannya di dada merasakan sendiri degup jantungnya, dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, yang kuduga membeku oleh keringat dingin. Ckck.. Rifky.. Rifky.. . Beberapa saat ketika aku mencoba mengembalikan konsentrasiku pada guru di depan, aku terkejut, Rifky meraih tanganku dan didekatkan pada jantungnya, tak ayal aku terpatung, degup jantungnya jelas terasa. “gugup banget saya Ovi, rasain degup jantung saya, gak pernah saya seperti ini sebelumnya”, katanya meyakinkanku. Dan aku membalas meyakinkan, “pasti berjalan lancar sesuai rencana koq, semangat ya..!!”. tanganku menepuk bahunya, dan menarik kembali tangan yang sudah digetarkan jantungnya. Beberapa menit kemudian….
“Dia uda di depan gerbang Vi..!! saya ke bawah dulu ya.. doakan saya..!” .
“pasti.. ”.
Malamnya aku bertanya, dan ia berkata “sukses sesuai rencana”, namun ia belum mau menceritakan detailnya, dia berjanji akan menceritakan secara runtut kejadian spesialnya itu besok.
….
Menyakitkan sekali menerima kenyataan ini, begitu cepat ia pergi, sungguh tak mampu. Tanganku berat ketika menabur bunga diatas pembaringanmu sekarang, tangisku menjadi-jadi. Kemudian aku teringat pujianmu kemarin, “Vi, kamu adalah wanita paling tegar yang pernah kutemui”. Segera aku hapus air mata, aku tunjukkan, kalau gelar yang dia beri, adalah benar.
Tangis mengiringi kepergiannya, tangis di sore hari tanggal 28 Oktober 2011, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Rifky meninggalkan Ibu yang sangat menyayanginya, adik-adik, keluarga, sahabat-sahabat, kekasih, rekan pramuka, teman sekelas, guru-guru, dan masih banyak lagi yang menyayanginya. Kami semua kehilangan sosok sederhana, ambisius, dan penuh semangat.
Dan di pagi harinya, di tanggal 28 Oktober 2011, tak ada firasat kuat kalau Rifky akan pergi secepat ini, ia masih duduk disebelahku, untuk kuajarkan matematika, sesekali ia bernyanyi, menyanyikan lagu kesenangannya, mulai dari, cidaha, dirimu satu, dll. Dia juga bilang kalau ia menyukai penyanyi Ari Lasso. Dan ia berkata padaku, “Ovi, lagunya Secondhand Serenade – Fall For You sangat cocok buatmu, pas dengan apa yang kamu rasakan saat ini”. Aku tersenyum, “oke, ntar saya coba download dan mendengarkannya”.
Jika aku tahu, setelah itu dia akan pergi untuk selamanya, aku
akan kabulkan semua inginnya, walauku tahu, semua itu tak sebanding dengan apa yang ia beri untukku.
….
“Nikmati hidupmu, bahkan jika sedang galau, nikmati pula galaumu, karena kita hidup bukan untuk mengeluh, tapi kita hidup untuk belajar agar tak pernah mengeluh”, -Ikhy_17-
….
Sahabat..
Tetap temani aku seperti biasa,
Tetap hibur aku kala aku sedih,
Tetap bawa aku ke tempat yang indah,
Tetap perlihatkan aku gambar yang menawan,
Tetap ucapkan kalimat penyemangat itu, hhhh….
Dan kau berkata…. “All is well”
Fairuz. Sosok sederhana, seorang sahabat yang lama kucari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Mampir Hari Ini

Yang paling berat dari kepergian mu…

Sebesar apa sayangnya Rin ke Bunda?