28 Oktober 2013

Setiap tanggal 28 Oktober, selalu terulang setiap tahunnya, kini sudah ketiga kalinya, Haru menangis sambil terisa-isak, merasakan sebuah kerinduan yang sangat dalam, dalam isak tangisnya, Haru bertanya,
“Kenapa kamu tinggalkan tatapan mata indahmu begitu menancap di hati?
 Kenapa kamu menggenggam tanganku?
Kenapa kamu menghangatkan hatiku yang selalu bersedih?
Kenapa kamu dekatkan tubuh hangatmu padaku?
Kenapa kamu biarkan aku merasakan degup jantung mu?
Kenapa kamu menunjukkan padaku senja?
Kenapa kamu bermanja-manja padaku?
Kenapa kamu menceritakan perasaanmu padaku?
Kenapa kamu pergi??!!
Kenapa? Kenapa? Kenapa?”
Selalu terulang dalam memori Haru tentang hari itu, hari dia pergi. Hujan sore itu, turut menangis, melepas dia. Sejak itu, hari-hari Haru seperti tak punya semangat, ia selalu melamun, sebentar menangis, sebentar melamun lagi.
Kini sudah dua tahun kepergian dia, Haru sudah bisa menerima kenyataan, Haru masih terus mengirimi dia doa.
Dia itu sahabat, Haru sebelumnya tak percaya sahabat, ia tak ingin sahabat, sahabat baginya hanya penghianat, sampai saat itu.
Haru merapat pada jendela sekolah, menatap hujan lamat-lamat, butirannya jatuh di kaca jendela, jatuh perlahan membentuk sebuah garis yang sedikit meliuk-liuk. Tiba tiba Haru dikejutkan kehadiran dia disampingnya, tersenyum kecil memerhatikan mata Haru yang tengah berkaca-kaca. Tak perlu Haru ceritakan, dia telah menebak, pasti tentang kekasih Haru. Kemudian dia menggambar dengan jarinya sebuah hati, terakhir dia menggariskan satu lagi membelah hati itu menjadi dua, Haru tertegun. Dia lalu menjelaskan. “Jangan kamu isi penuh hati ini dengan lelaki itu, isi sebagian saja, sisanya kamu bisa menempatkan Orangtua, dan kami, sahabatmu”. Haru mulai memahami, membenarkan ucapan dia, “terima kasih ya” ucap haru dengan sebuah senyuman di wajahnya.  “Kitakan sahabat”, dia balas tersenyum.
Sahabat. Haru sangat senang karena sahabat itu tidak semuanya penghianat. Sahabat itu menenangkan, seperti hujan.
Dan…
sahabat itu “sesaat”. Ia hanya hadir sesaat, singkat sekali, lalu pergi jauh tanpa bisa kamu menemuinya lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Mampir Hari Ini

Yang paling berat dari kepergian mu…

Sebesar apa sayangnya Rin ke Bunda?