Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Bukan Egois

Selalu ada sedikit harapan tiap kali menatapnya. Tapi kenyataan pahitnya, kamu tidak bisa dengan mudah menyulap dia menjadi yang kamu mau. Bukan egois, hanya mencoba berjalan lurus, dan sekali lagi dia tak mesti harus selalu mengerti. Maka kamu harus menjauh lagi.

Memaafkan yang berkali-kali

Haru sedang memikirkan Kira. Kemudian ia teringat akan sebuah buku. Buku yang berisi kisah antara Haru dan Kira dari awal mereka berpacaran hingga… kurang lebih setahun setelahnya. Sama dengan umur pacaran Haru dan Kira. Sebenarnya Haru sudah menutup buku itu dan ia tak ingin membaca lagi. Tapi Haru terus tergoda dengan buku itu, setiap detik Haru melirik ke dalam rak buku warna hitam miliknya. Dan Haru nampaknya tak kuat dengan rasa penasarannya. Akhirnya, pelan, ia meraih buku berwarna merah muda yang terhimpit oleh puluhan buku Haru disana. Tangan Haru bergetar, dan Haru sudah lebih dulu menangis, padahal ia belum membaca satu kata pun, itu karena kenangan pahit yang Haru ingin baca kembali, bagaimana ia pandai memaafkan, berkali-kali, sebanyak Kira menyakiti hatinya. Aneh, mengapa Haru sangat ingin membaca kisah saat itu, hanya kisah saat ‘itu’ saja. Apa karena ia begitu mencintai sejarah hidupnya? Atau karena mood- nya memang ingin membaca kisah saat ‘itu’? Tiada yang tah...

Haru is writing

Inilah cinta Beginilah cara kami saling mencintai Berbeda, karena kami membiarkan waktu bergulir disetiap degup cinta di diri kami Bagaimana waktu meniupkan rindu di dada Hingga pada saatnya kami akan melepaskan rindu itu Aku dan dia beradu tatap Waktu mempersilahkan kami Tak ada suara, hanya diam Merasakan letupan rasa senang Jiwa seakan kosong, kadang penuh Gejolak ini Yang selalu kami nanti

Hati-Hati di Jalan Kak

Pagi yang dingin. Disaat seperti itu, kebanyakan orang susah beranjak dari tempat tidur mereka, mereka lebih memilih membungkus diri mereka dengan selimut yang tebal dan melanjutkan mimpi indahnya, tapi tidak untuk Haru. Haru mengendarai sepeda motornya, menerobos hawa dingin di pagi hari itu, Haru terpaksa menggunakan tangan kanannya saja untuk mengemudikan sepeda motornya karena tangan kirinya ia gunakan untuk menggosok-gosokkan lengan kanannya, berharap dingin yang ia rasakan sedikit berkurang.   Namun itu nampaknya tak ada gunanya, apa lagi Haru semakin melaju sangat kencang seperti mengejar sesuatu. Yap, mengejar waktu tepatnya. Dengan baju merah muda cerah yang Haru kenakan, semoga bisa menutupi hatinya yang gundah, sebab hari ini Kira akan kembali ke tempat ia menuntut ilmu, Haru akan menemui Kira di rumahnya sebelum Kira berangkat. Ketika sepeda motor Haru telah berhenti sempurna di depan rumah Kira, Haru seakan tak bisa merasakan sekujur tubuhnya, ia seperti mem...

Jauhkan Kami dengan Baik-Baik

Bila kau pertanyakan air mata Haru, sesungguhnya itu air mata kekecewaan yang dalam, sebab Kira yang dia kenal dulu sudah bukan seperti itu lagi. Berubah. Itu kata yang tepat, satu persatu hal-hal yang Haru selalu banggakan pada diri Kira kini menjelma menjadi pribadi orang lain. Sekarang pertanyaannya, bagaimana bisa Haru mencintai pribadi asing itu? Sekaligus menjawab ajakan Kira untuk kembali menjalin cinta, karena inilah alasannya, Haru belum bisa menerima diri Kira yang baru. Setiap usai shalat, Haru selalu memanjatkan doa untuk lelaki itu. Jika memang Haru dan Kira adalah jodoh, agar kembalikan Kira yang dulu, namun jika tidak, Haru memohon agar diikhlaskan hatinya menerima Kira bersama perempuan-perempuan itu dan dijauhkan dengan baik-baik.

Mengunci Perasaan

Kemarin itu Haru dan Kira akan melewatkan sore hari bersama-sama sebab besoknya Kira akan kembali ke perantauannya. Haru membawa serta kamera DSLRnya, memotret suasana saat itu, ketika burung-burung akan bergegas kembali   ke sarangnya dan ketika jingga akan menyemburatkan keindahannya menjadi senja Diantara bias cahaya matahari sore, Haru memunguti sepotong kayu, memerhatikannya lamat-lamat, ternyata cinta yang telah putus tak ubahnya kayu ini yang dipaksa disatukan lagi dengan patahannya, bekas patahannya tetap nampak, tak seperti sediakala. Meski mereka saling mencintai, dan mereka telah terbiasa bersama, tetap saja tak ada daya kami sebagai manusia menetapkan siapa jodoh kami. Haru terkadang berpikir, bahwa cinta sebenarnya tidak harus diwujudkan dengan berpacaran, biar cinta yang mempertemukan maupun memisahkan, bair cinta yang memilih pasangannya, ya, beginilah cara Haru mengunci perasaan

Kamu Berubah

Sore ini Haru bisa kembali melewati waktu bersama Kira. Perasaan Haru? Dia bahagia. Sungguh. Tapi   setelah Haru sudah kembali ke rumahnya, dia termenung di pelataran rumahnya, hatinya gundah, sungguh tak enak yang dia rasakan, ada rasa bahagia namun seperti dibatasi, ia seperti berada dalam ruangan yang sempit. Setelah menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya, Haru mesih terlihat murung, lalu diambilnya gitar, dan mulai memainkannya. Beberapa menit setelah itu, Haru kembali terdiam, ia memandangi ke langit biru yang dipenuhi burung berterbangan, matanya memang terus tertuju pada burung-burung di langit yang semakin lama jingga, tapi pikirannya jauh melayang di tempat lain. Bagaikan kerasukan, Haru terburu-buru meraih kertas dan sebuah pena, dan ia mulai menulis.  --------------------------- Ini semua untuk apa? Ok, Aku punya cinta, kamu juga Tapi akan jadi apa? Semua belum pasti, keadaan ini membelokkan semuanya, mimpi kita tak menunj...

Semua Tentang Waktu

Maaf aku selalu terkesan mengganggu hidupmu Masalahnya aku telah lancang membicarakan cita-cita bersamamu, dan itu selalu mengganggu hari-hariku. Semuanya terbayang dan aku harus menepisnya dengan kenyataan bahwa semua tentang waktu Aku seperti menunggu seseorang yang sedang mengembara. Yang aku tahu sendiri, bahwa   belum tentu ia akan pulang, sebab ia mungkin akan menemukan yang lebih indah di pengembaraannya, dan membiarkanku menunggu

Sekaligus Keputusanku untuk Pergi

kamu sudah memutuskan untuk memilih dia, itu sekaligus keputusanku untuk pergi.

Untuk Sebuah Perpisahan

Haru bukan bermaksud meng-ojek-kan Kira, meski kelihatannya begitu, tapi Haru benar-benar tidak punya alasan lain agar bisa terus berada di dekat Kira selain meminta Kira mengantarkan ia ke suatu tempat. Besok Haru sudah harus balik ke Bandung. Padahal sore ini adalah waktu yang pas untuk perpisahan, dan nampaknya Kira di sore ini telah pada puncak kejenuhannya. “Repot banget sih kamu, tau gak sih aku kepanasan!” hardik Kira. Haru bukan kepalang terkejutnya. Sepanjang jalan Haru terus meminta maaf, namun Kira hanya menjawab dengan “hmm” saja. Akhirnya Haru memilih diam. Dalam diam Haru memikirkan semua yang ia harapkan dari Kira sebelum berangkat. Haru ingin Kira menciumi keningnya seperti dulu, Haru ingin merekam dalam gambar sebuah sunset di puncak bukit bersama Kira, dan Haru ingin melihat senyum Kira sebagai tanda perpisahan. Kini itu semua hanya keinginan semu belaka. Haru sungguh sedih. Tak bisa ia bayangkan beberapa bulan kedepan akan melewati hari sendiri tanpa Kira. “Mung...

Romantiiiisss

Haru dapat menghitung dengan jarinya, sisa waktu ia berada disini. Tinggal 3 hari lagi , nampaknya waktu sedang berlaku curang terhadap Haru, mengapa waktu untuk bersama Kira hanya sebentar saja. Haru harus memanfaatkan waktu yang tersisa itu dengan baik, ia mau terus bersama Kira, menghabiskan waktu bersama Kira. Tak ada ekspresi yang bisa Haru lukiskan untuk waktu yang ia lewati bersama Kira, selain senyuman dan tawa yang lepas, sesekali memang ada kesal, dan cemberut yang Haru buat, tapi sesungguhnya itu hanya taktik manja dari seorang Haru, yup gadis yang kekanak-kanakan. Masih saja sempat Haru layangkan senyuman untuk siang yang terik itu, Kira sudah mengeluarkan keluh peluh mengumpat pada matahari yang mencoba menusukkan panas ke tubuhnya, tapi lihat Haru, Haru hanya tertawa melihat tingkahnya itu. Haru sudah terbiasa dengan Kira yang selalu mengeluh, panaslah, laparlah, mengantuk, dan semacamnya, hehehe kalau tidak mengeluh, bukan Kira namanya. Mereka berjalan menuju se...

Berkunjung ke Rumah Nenek

Aku paling senang jika harus berkunjung ke rumah nenekku di Kampung Rato. Walaupun nenek tiri, tapi super baik deh orangnya, apa lagi kepadaku. Aku jadi ingat ketika aku masih kelas 4 SD, rumahku letaknya jauh dari SD-ku, dan kebetulan rumah nenek tiriku tua dade –begitu panggilanku buatnya, dekat dengan SD-ku. Aku akhirnya disarankan pulang ke rumah tua dade baru setelah itu dijemput disana, atau mungkin diantar papi Feri (anaknya tua dade). Ada banyak yang diajarkan mereka kepadaku setiap kali aku ada disana, mulai dari mencuci tangan di kobokan (air di mangkuk kecil) ketika makan bersama, kata tua dade “jangan dicipratin sembrono seperti itu, tapi dengan halus dan sopan” tua dade mempraktekkannya, dengan ayu gemulai, err… lebay juga, tapi kalau dilihat-lihat diterawang lebih jauh, bisa ditebak dulunya tua dade adalah sosok wanita yang cantik jelita, anggun dan ayu. Hm hm. Pelajaran ke-dua, “harus banyak-banyak minum”. Bisa dibayangkan aku dulunya kalau minum, hanya seperemp...

Di sore hari...

Beruntung, rumah Haru bukan terletak di pinggir jalan raya, atau di pinggir jalan umum yang dilewati hanya karena itu jalan satu-satunya. Sebab Haru tak suka kebisingian. Disetiap sore selama liburannya, Haru akan duduk di teras depan rumahnya, membaca novel yang baru ia beli sebelum mudik, atau membaca ulang novel-novel lamanya. Sesekali Haru mendongak memperhatikan langit yang malu-malu bersembunyi di balik awan putih. Haru akan betah disitu, sampai langit akan semakin merona malu kala Haru terus memandanginya.

Melayang

+ pikiranku lagi melayang-layang - layangan melayang-layang + ibaratnya begitulah - awas entar putus talinya, jangan terlalu tinggi melayang + aku berharap putus saja, daripada ia melayang mengganggu burung-burung itu yang sedang terbang berbaris indah - kenapa tidak terbang bersama burung itu, kalau putus entar tak tau arah kemana akan tersangkut + diriku sangat ingin terbang bersama mereka. kalau layangan, biarkan ia putus, diriku sudah tak peduli. Ia hanya memelintir tanganku menyiksa dengan benangnya yang tajam, menyakitkan. - Jangan biarkan tali layangan itu putus, walau benangnya memelintir tanganmu, sesakit apapun tapi dirimu harus bertahan karena benang itulah kemudimu. + Bagaimana mungkin diriku terus mengemudi layangan itu bila anginpun tak kau dapati? - Kau pasti bisa mengemudikan layangan itu walau tanpa angin tapi dirimu bisa berlari membuat angin agar layangan itu bisa terbang. + Jadi, maksudmu, dirikulah yang memegang semua kendali atas layangan itu? ...

Aku tetap Memilih Pergi

Salah apa? perlakuanmu itu membuat hati memaksa mengakui kesalahan yang belum kuketahui aku tak menyukai jalan ini mengapa kau memaksa diriku adalah aku apa karena kau memang mencari masalah dari kelemahanku? maafkan aku yang mulai tidak berpikir mulus semestinya kau sadar perilaku aneh mu yang memancing aku pasrah atau aku akan tegas aku tetap memilih untuk pergi