Hati-Hati di Jalan Kak


Pagi yang dingin. Disaat seperti itu, kebanyakan orang susah beranjak dari tempat tidur mereka, mereka lebih memilih membungkus diri mereka dengan selimut yang tebal dan melanjutkan mimpi indahnya, tapi tidak untuk Haru.

Haru mengendarai sepeda motornya, menerobos hawa dingin di pagi hari itu, Haru terpaksa menggunakan tangan kanannya saja untuk mengemudikan sepeda motornya karena tangan kirinya ia gunakan untuk menggosok-gosokkan lengan kanannya, berharap dingin yang ia rasakan sedikit berkurang.  Namun itu nampaknya tak ada gunanya, apa lagi Haru semakin melaju sangat kencang seperti mengejar sesuatu. Yap, mengejar waktu tepatnya.

Dengan baju merah muda cerah yang Haru kenakan, semoga bisa menutupi hatinya yang gundah, sebab hari ini Kira akan kembali ke tempat ia menuntut ilmu, Haru akan menemui Kira di rumahnya sebelum Kira berangkat. Ketika sepeda motor Haru telah berhenti sempurna di depan rumah Kira, Haru seakan tak bisa merasakan sekujur tubuhnya, ia seperti membeku. Lalu Haru mengarahkan pandangannya ke dalam rumah, aneh, Haru seketika merasakan kehangatan yang terpancar dari tatapan Kira yang sedang berdiri di situ. Sedang asyik terlena oleh sosok Kira, Haru kemudian dibuyarkan imajinasinya oleh celetuk Kira, tapi Haru kurang bisa mendengar jelas.

“ Apa??!” tanya Haru untuk memperjelas apa yang Kira tanyakan.

“Nasi! Lapar nih. Udah di SMSin tadi itu!” seru Kira.

“Hah?” Haru lalu mengambil handphone Sony warna hitam miliknya di dalam tas, mengecek apa benar ada sebuah pesan masuk, ternyata benar, tapi Haru sudah sampai dan berat untuk kembali menerobos embun pagi itu.  “Jangan dong, dingin tau di luar. Malas ah.”

 Kira sepertinya merasa kasihan dengan Haru yang sudah jauh-jauh datang untuknya, atau mungkin bukan kasihan, tapi sengaja agar tidak ada waktu yang terpotong lagi untuk mereka berdua. Alhasil Kira meminta tolong temannya Adli untuk membeli nasi bungkus.

Kikan si DSLR camera milik Haru akhir-akhir ini sangat dekat dengan Haru, beda disaat Haru sedang sibuk kuliah, Kikan hanya sendirian didalam tas dan tas itu ada di dalam lemari, miris sekali. Sekarang ketika Haru sedang liburan, kemana pun Haru, Kikan selalu ikut, seperti sekarang.

Haru sebenarnya tak ingin mengeluarkan Kikan, apa lagi harus mengintip Kira dibalik viewfinder-nya Kikan, oh, itu pasti akan membuat Haru bersedih. Tetapi apa mau dikata, Kira memohon untuk di foto, dan itu karena Kira tahu Haru membawa serta Kikan saat itu. Akhirnya dengan sedikit dipaksakan, sebelum Haru menekan shutter-nya Kikan, Haru memperhatikan Kira, senyumannya, itu senyuman bahagia karena ia sedang dibalut hampir seluruhnya dengan warna kesukaannya, mulai dari helm, jaket, kaos tangan, celana, ransel, sepatu dan sepeda motornya, semuanya hitam. Kali ini Haru memperhatikan matanya lagi, “ya Allah, tatapan itu nanti yang menggoda hati untuk selalu merindukan dia” pekik Haru dalam hati, Ia kemudian kembali berkonsentrasi pada gambar yang akan ia ambil. Satu, dua, tiga, banyak juga fotonya, kebetulan saat itu Ibunya Kira ada disitu juga.

“Ayo, sekarang foto berdua, Ibu dan kak Kira, hee”

Ibu saat itu sedikit malu-malu, lebih tersipu lagi saat Kira hendak menciumi Ibundanya itu. Haru yang sedari tadi ada dibalik Kikan, memperhatikan keduanya, ada senyum yang mengembang dibibir Haru.
Ini dia saatnya, Kira harus berangkat, Haru mengambil satu foto saat Kira sudah duduk di sepeda motornya, dan Kira kemudian pergi, beberapa menit kemudian, Haru langsung pamit juga pada Ibunda Kira.

Diatas sepeda motornya, Haru bergumam dalam hati, mungkin lebih kepada berdoa.
“Hati-hati di jalan Kak, semoga sukses"







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Mampir Hari Ini

Yang paling berat dari kepergian mu…

Sebesar apa sayangnya Rin ke Bunda?