Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Haru is writing

Inilah cinta Beginilah cara kami saling mencintai Berbeda, karena kami membiarkan waktu bergulir disetiap degup cinta di diri kami Bagaimana waktu meniupkan rindu di dada Hingga pada saatnya kami akan melepaskan rindu itu Aku dan dia beradu tatap Waktu mempersilahkan kami Tak ada suara, hanya diam Merasakan letupan rasa senang Jiwa seakan kosong, kadang penuh Gejolak ini Yang selalu kami nanti

Hati-Hati di Jalan Kak

Pagi yang dingin. Disaat seperti itu, kebanyakan orang susah beranjak dari tempat tidur mereka, mereka lebih memilih membungkus diri mereka dengan selimut yang tebal dan melanjutkan mimpi indahnya, tapi tidak untuk Haru. Haru mengendarai sepeda motornya, menerobos hawa dingin di pagi hari itu, Haru terpaksa menggunakan tangan kanannya saja untuk mengemudikan sepeda motornya karena tangan kirinya ia gunakan untuk menggosok-gosokkan lengan kanannya, berharap dingin yang ia rasakan sedikit berkurang.   Namun itu nampaknya tak ada gunanya, apa lagi Haru semakin melaju sangat kencang seperti mengejar sesuatu. Yap, mengejar waktu tepatnya. Dengan baju merah muda cerah yang Haru kenakan, semoga bisa menutupi hatinya yang gundah, sebab hari ini Kira akan kembali ke tempat ia menuntut ilmu, Haru akan menemui Kira di rumahnya sebelum Kira berangkat. Ketika sepeda motor Haru telah berhenti sempurna di depan rumah Kira, Haru seakan tak bisa merasakan sekujur tubuhnya, ia seperti mem...

Jauhkan Kami dengan Baik-Baik

Bila kau pertanyakan air mata Haru, sesungguhnya itu air mata kekecewaan yang dalam, sebab Kira yang dia kenal dulu sudah bukan seperti itu lagi. Berubah. Itu kata yang tepat, satu persatu hal-hal yang Haru selalu banggakan pada diri Kira kini menjelma menjadi pribadi orang lain. Sekarang pertanyaannya, bagaimana bisa Haru mencintai pribadi asing itu? Sekaligus menjawab ajakan Kira untuk kembali menjalin cinta, karena inilah alasannya, Haru belum bisa menerima diri Kira yang baru. Setiap usai shalat, Haru selalu memanjatkan doa untuk lelaki itu. Jika memang Haru dan Kira adalah jodoh, agar kembalikan Kira yang dulu, namun jika tidak, Haru memohon agar diikhlaskan hatinya menerima Kira bersama perempuan-perempuan itu dan dijauhkan dengan baik-baik.

Mengunci Perasaan

Kemarin itu Haru dan Kira akan melewatkan sore hari bersama-sama sebab besoknya Kira akan kembali ke perantauannya. Haru membawa serta kamera DSLRnya, memotret suasana saat itu, ketika burung-burung akan bergegas kembali   ke sarangnya dan ketika jingga akan menyemburatkan keindahannya menjadi senja Diantara bias cahaya matahari sore, Haru memunguti sepotong kayu, memerhatikannya lamat-lamat, ternyata cinta yang telah putus tak ubahnya kayu ini yang dipaksa disatukan lagi dengan patahannya, bekas patahannya tetap nampak, tak seperti sediakala. Meski mereka saling mencintai, dan mereka telah terbiasa bersama, tetap saja tak ada daya kami sebagai manusia menetapkan siapa jodoh kami. Haru terkadang berpikir, bahwa cinta sebenarnya tidak harus diwujudkan dengan berpacaran, biar cinta yang mempertemukan maupun memisahkan, bair cinta yang memilih pasangannya, ya, beginilah cara Haru mengunci perasaan

Kamu Berubah

Sore ini Haru bisa kembali melewati waktu bersama Kira. Perasaan Haru? Dia bahagia. Sungguh. Tapi   setelah Haru sudah kembali ke rumahnya, dia termenung di pelataran rumahnya, hatinya gundah, sungguh tak enak yang dia rasakan, ada rasa bahagia namun seperti dibatasi, ia seperti berada dalam ruangan yang sempit. Setelah menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya, Haru mesih terlihat murung, lalu diambilnya gitar, dan mulai memainkannya. Beberapa menit setelah itu, Haru kembali terdiam, ia memandangi ke langit biru yang dipenuhi burung berterbangan, matanya memang terus tertuju pada burung-burung di langit yang semakin lama jingga, tapi pikirannya jauh melayang di tempat lain. Bagaikan kerasukan, Haru terburu-buru meraih kertas dan sebuah pena, dan ia mulai menulis.  --------------------------- Ini semua untuk apa? Ok, Aku punya cinta, kamu juga Tapi akan jadi apa? Semua belum pasti, keadaan ini membelokkan semuanya, mimpi kita tak menunj...