Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Rindu Macam Apa

Rindu macam apa Menggebu-gebu Rasanya dada penuh Namun tetap harus menunggu Ketika rindu, tapi hanya boleh berdoa, Rindu macam apa? Kemudian kuhela nafas Memohon ampun Sebab mengeluh tiada guna Tunggu saja, jawabannya akan datang, tentu saja lebih indah dari yang dibayangkan Janji Allah tak pernah ingkar

Di Ujung Titian

Bermasalah dengan waktu Menjerat kerinduan untuk menunggu Masih menanti Untuk sebutir bening janji Di ujung titian Berharap pula pada waktu Dengan mengirim kesepian dan keheningan danau ini Meminta bantuan sang merpati Sabar akan mengatup Jeritan-jeritan kesunyian Karena tak ingin penghuni danau Terbangun kejut Aku mengerti Bahkan sebelum awan menjelaskan Sebelum ia meliukkan bentuknya Menyerupai kalimat dorongan Untuk menjiwa kedewasaan 

Merah

Biarkan ombak mengikisnya Karena tak ada yang Mengharapkan keberadaannya Hanya sebagai sampah Tak berarti di matanya Ketegaranku berdiri diatas Batu karang Tetesan air mata Dipecah oleh hantaman air laut Mata memerah Selaras warna langit Inikah saatnya Saat dimana kegelapan menyambut Kaki polos tanpa alas Kini berkerut Dimakan asinnya air laut Namun masih tetap ingin disini Aku tak ingin lingkaran cahaya Habis oleh garis pembatas Biarkan aku menatap Merah yang berubah kelam

Saat Kita Hanya Bisa Merindu

Rindu itu akan semakin kuat Rasanya seperti sesuatu melilit di dada, kian erat Aku sudah sampai pada titik itu Pikirku, setelah menangis, semua akan lega Pikirku, menjemputmu dalam mimpi, rasanya bisa lega Aku salah mengira Ternyata rindu inilah jawabannya Rindu yang selalu aku adukan pada Sang pemilik rasa Yang pada saatnya, aku percaya Ia akan menyatukan dua orang yang tak saling mencari tapi yang saling mencari jawaban padaNya

Ruang Tanpa Waktu

Disaat kau sudah tak bermimpi Aku yang memimpikanmu Mimpi pun tak selalu menjadi kenyataan Begitu pula dengan mimpiku Kini hanya ada kau dan aku Berdiam diri bagai orang asing Berada dalam ruang tanpa waktu Gelap dan dingin Dalam gelap aku mencari kejujuran Namun tak terlihat olehku apa-apa Nyalakan api untukku Bantu aku mencarinya Dan aku pun akan selalu Setia menunggu Walau dingin Selalu menyelimuti

Bahagia

Wilayah yang gersang Kini mulai merasakan hidup kembali Karena air hujan itu Menghilangkan dahaga silam Seakan hujan ingin membagi Kebahagiaan ku Pada segenap yang bernafas Bahagiaku.. Seluas jagad raya ini.. Ku kabarkan pada bunga-bunga Ku bawa angin bersamaku Malambung.. Terbang.. Kicauan burung-burung Menjadi awal suara kehidupan ku Rumput berembun Sebagai awal langkahku Kusedekahkan senyumku Karena aku bahagia..

Kesalahan

Aku letih Ribuan mil telah ku lalui Menyeberangi samudera Terik mentari bukan pantangan Bertanya pada setiap manusia Hanya untuk mancari Sebuah kesalahan Dua tahun bak dua abad Mengarungi kesunyian dunia Melawan badai keegoisan dan amarah Namun aku masih tetap tegar Di dinginnya malam Berbisik di telinga Kesalahan waktu itu Yang tidak aku sadari Air mata mengucur deras dari bola mataku Mulutku tak hentinya memaki diri ini Mengapa baru ini aku mengetahuinya? Sebuah kesalahan yang membeku Ingin aku berlari mundur Hidup di masa itu lagi Aku ingin menepati janjiku Namun itu hanya sebatas Keinginan bodoh Menyesal…. Satu permintaan ku saat ini Dengarkan permohonan maafku