Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Bunga

Benar yang kebanyakan meraka bilang, Bunga Kamu pendiam, Bunga Perkara cinta pun kau memilih bungkam, Bunga Tapi lihatlah gelagatmu, Bunga Mencari-cari kesempatan untuk menyelinap dalam khusuk doanya

Nikmati Hidup

Kalau saja waktu dapat dikendalikan.  Aku ingin memeluk apa yang kita sebut kenangan.  Memasungnya agar tak beranjak dulu dariku yang egois, atau menahan agar tak mengambilmu cepat. Sebab kenangan itu hidup kita yang berharga.  Kamu selalu ingatkan itu.  Ya.  Dan kamu berkata: “nikmati hidup”

Biru

Sebab aku kehilangan arah Menerjemahkan birunya begitu sulit Kamu yang selalu warnai langit Sudah jauh menggapai langit Pandanganku bukanlah biru lagi Maafkan untuk mengecewakanmmu Aku terlampau takut dia marah Ataukah aku terlalu mengangan-angankan kasih sayang padanya. Aku pun memuja kepercayaan Hingga saat ia hancur Aku hancur Tunjukkan birumu Tuliskan pesan pada cakrawala Meski aku tak mau melihat Egoku memaksamu tetap tinggal Aku tak ingin kamu pergi !!

13 Januari 2012

Saat langit cerah Langit yang biru dengan gumpalan awan putihnya Aku mencari kedewasaanmu. Saat langit murung Dan awan kelabu memenuhinya Tanganku menggenggam tetesan gerimis Aku mencari kesederhanaanmu. Matahari terbenam begitu saja Tak ada lagi yang melihatku dari balik kamera Siluet sudah tak bermakna lagi Semuanya hitam pekat

Tentang Layang-layang

Percakapan dua orang yang mungkin tentang layangan. Percakapan yang hanya keduanya yang tau, yang lain hanya menduga dan mengaitkan dengan kisah masing-masing. E: pikiranku sedang melayang-layang D: layangan kali melayang-layang E: Ibaratnya begitulah D: awas sampai terputus talinya, jangan dilayangkan terlalu tinggi E: aku malah berharap layangan ini putus saja, daripada ia mengganggu burung-burung itu yang sedang terbang berbaris indah D: kenapa kau tidak ikut terbang bersama burung itu, dan kenapa pula kamu biarkan layangan itu terputus? Bagaimana kalau layangan itu benar-benar terputus dan tak tau arah kemana akan tersangkut. E: diriku sangat ingin terbang bersama mereka. Dan soal layangan, biarkan ia terputus, aku sudah tidak peduli, ia hanya menyakiti tanganku dengan sayatan benangnya yang tajam. Menyakitkan. D: jangan biarkan tali layanganmu putus, walau benangnya menyakiti tanganmu, sesakit apapun kamu harus bertahan karena benang itulah kemudimu. E: bagaim...

Terbang Bersamamu

Sahabat.. Aku sangat butuh kamu saat ini. Tolong hadir atau sekedar bisikkan kalimat penyemangat itu. Aku gak kuat, Aku yang kau bilang wanita tegar, Ternyata tak setegar yang ada dipikiranmu Aku terlalu cengeng untuk itu Coba saja kamu masih disini, Seperti biasa, Kamu akan jadi orang pertama yang menyadari mataku bengkak karena menangis berjam-jam. Sahabat, Aku gak mau jalani cinta seperti ini Aku sama seperti budaknya Aku dibelenggu oleh tuntutan-tuntutannya Apa ini yang namanya kekasih? Tapi aku sudah terjebak dalam suaranya, Aku menjadi luluh lantak. Dan di lain sisi… Batinku menjerit Meminta lepas, Ingin terbang bersamamu.. di langit luas

All is Well

Hujan ini mengingatkan aku pada suatu waktu yang diselimuti ketegangan dan air mata. Saat itu, aku duduk di muka Rumah Sakit meratapi hujan yang turun, petir turut mempermasalahkan air mataku. Aku menangis, melihat sahabatku, Rifky, berjuang melawan kesakitan, aku bisa melihat genggamannya, erat, sungguh tak kuasa. Ia dipindah dari IGD menuju ICU, beberapa menit kemudian ada seseorang berteriak histeris dari dalam ruangan, tanpa mendapat komando, serentak semua orang disitu yang sayang dengan Rifky menangis, memeluk satu sama lain. Ini kabar yang tak pernah ingin aku dengar, aku terpukul. Rifky telah pergi meninggalkan kita semua. …. Aku mengenalnya sejak menjadi murid baru di sekolah menengah dan bersahabat, “apa yang enggak buat sahabat”, begitu katanya tiga hari sebelum kepergiannya. Dialah sahabat yang ada disaat ku senang dan sedih, mendengarkan curahan hatiku dan sebaliknya, akupun mendengarkan perjuangan cintanya, aku selalu menyemangatinya, hingga akhirnya ia mendapatk...

28 Oktober 2013

Setiap tanggal 28 Oktober, selalu terulang setiap tahunnya, kini sudah ketiga kalinya, Haru menangis sambil terisa-isak, merasakan sebuah kerinduan yang sangat dalam, dalam isak tangisnya, Haru bertanya, “Kenapa kamu tinggalkan tatapan mata indahmu begitu menancap di hati?  Kenapa kamu menggenggam tanganku? Kenapa kamu menghangatkan hatiku yang selalu bersedih? Kenapa kamu dekatkan tubuh hangatmu padaku? Kenapa kamu biarkan aku merasakan degup jantung mu? Kenapa kamu menunjukkan padaku senja? Kenapa kamu bermanja-manja padaku? Kenapa kamu menceritakan perasaanmu padaku? Kenapa kamu pergi??!! Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Selalu terulang dalam memori Haru tentang hari itu, hari dia pergi. Hujan sore itu, turut menangis, melepas dia. Sejak itu, hari-hari Haru seperti tak punya semangat, ia selalu melamun, sebentar menangis, sebentar melamun lagi. Kini sudah dua tahun kepergian dia, Haru sudah bisa menerima kenyataan, Haru masih terus mengirimi dia doa. Dia i...