Hujan ini mengingatkan aku pada suatu waktu yang diselimuti ketegangan dan air mata. Saat itu, aku duduk di muka Rumah Sakit meratapi hujan yang turun, petir turut mempermasalahkan air mataku. Aku menangis, melihat sahabatku, Rifky, berjuang melawan kesakitan, aku bisa melihat genggamannya, erat, sungguh tak kuasa. Ia dipindah dari IGD menuju ICU, beberapa menit kemudian ada seseorang berteriak histeris dari dalam ruangan, tanpa mendapat komando, serentak semua orang disitu yang sayang dengan Rifky menangis, memeluk satu sama lain. Ini kabar yang tak pernah ingin aku dengar, aku terpukul. Rifky telah pergi meninggalkan kita semua. …. Aku mengenalnya sejak menjadi murid baru di sekolah menengah dan bersahabat, “apa yang enggak buat sahabat”, begitu katanya tiga hari sebelum kepergiannya. Dialah sahabat yang ada disaat ku senang dan sedih, mendengarkan curahan hatiku dan sebaliknya, akupun mendengarkan perjuangan cintanya, aku selalu menyemangatinya, hingga akhirnya ia mendapatk...