Melayang
+ pikiranku lagi melayang-layang
- layangan melayang-layang
+ ibaratnya begitulah
- awas entar putus talinya, jangan terlalu tinggi melayang
+ aku berharap putus saja, daripada ia melayang mengganggu burung-burung itu yang sedang terbang berbaris indah
- kenapa tidak terbang bersama burung itu, kalau putus entar tak tau arah kemana akan tersangkut
+ diriku sangat ingin terbang bersama mereka. kalau layangan, biarkan ia putus, diriku sudah tak peduli. Ia hanya memelintir tanganku menyiksa dengan benangnya yang tajam, menyakitkan.
- Jangan biarkan tali layangan itu putus, walau benangnya memelintir tanganmu, sesakit apapun tapi dirimu harus bertahan karena benang itulah kemudimu.
+ Bagaimana mungkin diriku terus mengemudi layangan itu bila anginpun tak kau dapati?
- Kau pasti bisa mengemudikan layangan itu walau tanpa angin tapi dirimu bisa berlari membuat angin agar layangan itu bisa terbang.
+ Jadi, maksudmu, dirikulah yang memegang semua kendali atas layangan itu? Lalu kapan aku memperoleh waktu sejenak untuk menghela napas kebebasan?
- Iya, semua ada pada dirimu, tergantung dirimu yang mengendalikan segala sesuatu, turunkan layangan itu istirahatlah sejenak sembari menunggu angin sepoi-sepoi
+ Sebenarnya aku ingi layangan itu terus terbang, menari-nari mengikuti lekuk bentuknya dan sebenarnya akupun merindukan angin sepoi itu, yang melelapkan aku dibawah pelukan sebatang pohon yang kokoh... dan ternyata aku belum terlalu mengerti akan apa yang sebetulnya jiwaku mau.
- Kadang inginmu terus berlanjut bagai hari tanpa malam seandainya bisa begitu. Tapi inilah kodrat yang sudah ditentukan sejak dulu pahami keinginan jiwamu dibawah angin sepoi-sepoi
- layangan melayang-layang
+ ibaratnya begitulah
- awas entar putus talinya, jangan terlalu tinggi melayang
+ aku berharap putus saja, daripada ia melayang mengganggu burung-burung itu yang sedang terbang berbaris indah
- kenapa tidak terbang bersama burung itu, kalau putus entar tak tau arah kemana akan tersangkut
+ diriku sangat ingin terbang bersama mereka. kalau layangan, biarkan ia putus, diriku sudah tak peduli. Ia hanya memelintir tanganku menyiksa dengan benangnya yang tajam, menyakitkan.
- Jangan biarkan tali layangan itu putus, walau benangnya memelintir tanganmu, sesakit apapun tapi dirimu harus bertahan karena benang itulah kemudimu.
+ Bagaimana mungkin diriku terus mengemudi layangan itu bila anginpun tak kau dapati?
- Kau pasti bisa mengemudikan layangan itu walau tanpa angin tapi dirimu bisa berlari membuat angin agar layangan itu bisa terbang.
+ Jadi, maksudmu, dirikulah yang memegang semua kendali atas layangan itu? Lalu kapan aku memperoleh waktu sejenak untuk menghela napas kebebasan?
- Iya, semua ada pada dirimu, tergantung dirimu yang mengendalikan segala sesuatu, turunkan layangan itu istirahatlah sejenak sembari menunggu angin sepoi-sepoi
+ Sebenarnya aku ingi layangan itu terus terbang, menari-nari mengikuti lekuk bentuknya dan sebenarnya akupun merindukan angin sepoi itu, yang melelapkan aku dibawah pelukan sebatang pohon yang kokoh... dan ternyata aku belum terlalu mengerti akan apa yang sebetulnya jiwaku mau.
- Kadang inginmu terus berlanjut bagai hari tanpa malam seandainya bisa begitu. Tapi inilah kodrat yang sudah ditentukan sejak dulu pahami keinginan jiwamu dibawah angin sepoi-sepoi
Komentar
Posting Komentar