Ia Telah Pergi


Langkahnya semakin menjauh, aku hanya bisa menatap punggungnya, mengenakan kaos hitam, tangan disembunyikan dalam saku celananya. Aku teriak memanggil namanya, namun tak terdengar suaraku. Ia tetap berjalan. Aku mengejar, dan masih terus berusaha memanggil.

Lama,
Suaraku akhirnya terdengar dan mataku pun terbuka menjelalat sekeliling. Cahaya temaram dari lampu kecil di sudut kamar mengenai setiap benda disekitarku, aku mengenali. Langit-langit kamar yang polos, pintu, lemari, dan meja.

Aku telah terbangun dari mimpi, dengan keringat masih mengucur, dan nafas yang belum teratur. Tetapi bukan sekedar mimpi
Sebenarnya.
Ia benar-benar pergi.
Ia telah pergi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Mampir Hari Ini

Yang paling berat dari kepergian mu…

Sebesar apa sayangnya Rin ke Bunda?