Dia Yang Aku Sebut Sahabat

“Dan juara pertama untuk lomba MIPA tahun ini diraih oleh…. Yudha Pratama”. Begitu ucap juri pada perlobaan MIPA.
Yudha Pratama? Hatiku bertanya-tanya sendiri, siapakah gerangan pemilik nama itu, kenapa ia selalu juara satu setiap ada perlombaan seperti ini. Apakah aku iri? Yang jelas aku penasaran.
Awalnya aku memerhatikan langkah kaki yang berjalan menuju panggung. Sepatu hitamnya, celana biru, kemeja putih, dasi biru dan… wajahnya…. Deg ! jantungku tiba-tiba seperti tidak pada tempatnya. Sungguh, dia tampan. Kali ini aku melihatnya dengan berbeda. Mungkinkah saat ini dia telah memikat hati ku?

Mataku sudah tak dapat melepaskan pandangan pada wajah tampan itu, matanya yang sayu, hidung mancung, dagu yang manis, dan, ohh.. senyumnya. Sepertinya aku akan terbang, dan aku menunduk, memastikan kakiku masih menginjak lantai.
“Ve..! Verizha !”, suara Inge mengagetkanku.
“Apa?! Enggak perlu teriak kali ! aku kan ada persis disebelahmu”, jawabku.
“kamu sih! Kok bengong, matamu gak hentinya mendangin cowok itu. Kamu naksir ya?” terka Inge.
“Ya enggaklah. Aku hanya penasaran sama dia, setiap perlombaan pasti dia ikut, dan selalu juara, lebih sering juara satu, nah aku? Gak lebih dari juara dua, huft..” keluhku.
“sabar Ve, kamu kurang berusaha si, kamu tu aku liat, orangnya pemalas, padahal sebenarnya pintar lho !”
“ya.ya.ya makasi deh Inge”.
….
Awalnya aku memang berbohong pada Inge, aku bukan sekedar penasaran dengan  Yudha, tetapi aku juga penasaran yang lain dari dirinya, dia seperti misterius bagiku, membuatku ingin selalu mencari tahu banyak tentangnya.
Hingga saat aku menginjak SMA, aku tak pernah lepas dari segala keingintahuanku tantang Yudha. Inge yang sekarang sangat tahu tentang ini, bilang bahwa aku sedang jatuh cinta. Hmm, mungkin juga benar.
….
            Kalau sedang belajar di kelas, aku pasti ijin ke toilet, bukan ke toilet sebenarnya, hanya ingin lewat depan kelas Yudha, sekedar melirik dia yang ada di dalam kelas. Setelah itu aku bisa senyum-senyum sendiri. Indahnya.
Atau memandangi dia dari atas tingkat sedang bemain basket. Aku senang, apalagi lincahnya dia saat merebut bola dari lawan, dan saat berkali-kali tepat memasukkan bola pada ring, tak ada kata lain selain “keren”.
            Semua kegilaanku pada Yudha, aku selalu cerita pada Inge. Bisa dibilang, Inge adalah orang yang paling tahu diriku. Tapi teryata Inge salah mengartikan semua keistimewaan Yudha yang aku ceritakan padanya, membuat Inge juga jatuh hati pada Yudha. Hal itu tak perlu menunggu lama, seperti aku yang menanti Yudha menyatakan cinta selama lebih dari dua tahun, sebab, beberapa hari berikutnya, Inge sudah bisa memiliki Yudha.
            Kutak habis pikir, aku sahabatnya, ia jelas-jelas tahu aku sangat menginginkan Yudha, tapi ternyata ia lebih senang menusukku dari belakang.
            “dengar Ve. Aku sama sekali tidak bermaksud merebut Yudha dari kamu. Aku hanya berpikir bahwa kamu sudah menyerah, karena sampai saat ini, kamu tidak bertindak untuk mendekati Yudha”.
            “sudahlah Nge! Tidak perlu ada alasan keluar dari mulutmu. Aku sudah cukup kecewa sama kamu”, ucapku sambil meneteskan air mata.
            “tapi Ve…….”, Inge ingin menjelaskan lagi, tapi aku memotong.
            “cukup!!”
            Malam ini aku benar-benar galau. Boneka kelinci yang aku peluk, basah oleh air mata. Tapi hati kecilku berbisik, mengganggu pikiranku, aku seperti didorong untuk memaafkan Inge. Ya, aku harus baikan lagi dengan Inge, terlalu kekanak-kanakkan kalau kita harus berantam hanya karena seorang lelaki. Mulai sekarang aku harus bisa mengikhlaskan Inge dengan Yudha, toh Yudha bukan siapa-siapaku, aku pun belum tentu dicintai balik oleh Yudha. “Yudha milik Inge!” batinku menyemangati.
            Esok harinya aku sudah kembali baikan dengan Inge.  Rasanya beban batin sudah hilang. Saat aku hendak membuka novel “Yang Galau Yang Meracau” yang diberi pinjam oleh Yudha tadi, ada secarik kertas, seperti surat, berwarna biru muda, aku berpikir untuk tidak membacanya saja, tapi, pada kertas itu tertulis untukku dari Yudha.

Isi surat tersebut:

“setiap orang memiliki ruang kosong di hatinya,
Ketika seseorang datang untuk mengisi ruang kosong itu,
Sesungguhnya ia hanya berdiri dan menyamarkan ruang kosong itu.
Ruang kosong itu mungkin takkan benar-benar bisa terisi.
Sebab yang aku ingin, kamu. Untuk berada di dalamnya dan memiliki hati  ini seutuhnya.

            Hening. Aku tak bisa berkomentar apa-apa, bahkan batin tak bisa bergumam. Tidak mungkin, ini pasti lelucon, kalaupun benar, berarti Yudha hanya lelaki plembual. Sudah memiliki Inge, tetapi masih saja bisa mencintai orang lain. Dasar !


            Pagi di hari Minggu ini, aku sedang menulis di taman rumahku, tiba-tiba ada telepon masuk dari Yudha. “Yudha?!” aku tersentak.
            “ya, halo..? ada apa Yud?” , tanyaku memulai percakapan di telepon itu.
            “Ve ! cepat ke rumah sakit! Inge sekarang di IGD.”seru Yudha dengan nada cemas.
            “Oh. Iya, iya, aku segera kesana”.


            Di rumah sakit, semua duduk berjajar, ada orang tua Inge,Yudha, dan kerabat-kerabat dekat Inge yang lainnya. Aku tak kuasa melihat Inge harus berjuang melawan sakitnya. Tangan Inge meremas kuat, nafasnya berat. Lebih tidak kuat saat Dokter memvonis Inge mengidap kanker otak stadium lanjut. Oh Tuhan, begitu berat beban yang harus ditanggung sahabatku.

            Kemudian Yudha menghampiriku yang sedang menangis di tangga Rumah Sakit. “sekarang kamu tahu kan Ve ! alasan aku harus berada disamping Inge, bukan karena aku menginginkannya, hanya saja….”
            “sudah..! tak usah kita membahas ini dulu, itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah kesehatannya Inge”.
Aku dan Yudha kembali terdiam, ada doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa, semoga penderitaan Inge segera berlalu.
            Beberapa menit kemudian, di dalam ruangan tempat Inge berbaring, hanya ada kita bertiga, aku, Inge, dan Yudha. Inge mulai membuka mulut dan berkata, “aku sadar, aku tak punya hak untuk menghalangi bintang berhenti bersinar, aku pun tahu bulan milik bumi, tetapi aku ingin keduanya berpisah, hanya karena egoku. Kalian pasti mengerti maksudku, maka ijinkan aku bahagia melihat kalian bersatu”. Inge lalu meraih tangan kananku dan tangan kanan Yudha untuk disatukannya, sembari ia tersenyum, akhirnya genggaman Inge melemah dan terlepas, diikuti mata Inge yang perlahan memejam.

...



            Kalau saja waktu dapat dikendalikan. Aku ingin menahannya agar tak mengambilmu cepat. Berat tanganku saat harus menabur bunga dipembaringanmu saat ini. Dirimu adalah sahabat yang abadi, tetap aku kenang selamanya.



Oleh: Novi Fachrunnisa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Mampir Hari Ini

Yang paling berat dari kepergian mu…

Sebesar apa sayangnya Rin ke Bunda?